Welcome To My Blog

Foto saya
Welcome to my little blog. I will post here some of my happenings and also put up some photos. Hope you enjoy! I'm a Mr nice guy :-)Only ordinary people who live in that part of the power of dreams becoming reality. I have a high sense of nationalism for the country even though I come from a minority, this time I served as chairman of the National Mandate Party Manado. And last, I wanted to say, Khalil Gibran is still alive today. God is always with us

http://id.linkedin.com/in/kandou

Rabu, 08 Juni 2011

Om Mani Padme Hum

Hari minggu saya sedang melaksanakan pekerjaan saya sebagai fotografer di Gorontalo. Disaat saya sedang memotret pengantin wanita, mungkin karena iseng dan acara masih lama, dia pun bertanya tentang gelang tasbih yang ada pada tangan kiri saya, "Ko Han, itu gelang ada jampi-jampinya?"

Sayapun terkaget dan tertawa kecil, karena ini bukan baru pertama kali orang bertanya demikian, dan saya teringat bahwa hari itu sudah 10 tahun saya selalu menggunakan gelang seperti itu, dan kira-kira saya sudah menggantinya lebih dari 10 kali karena tidak mungkin gelang kayu yang sangat sederhana ini bisa bertahan dipakai lebih dari setahun.

Saya hanya menjawab singkat saja bahwa saya menggunakan gelang ini cuma sebagai kebiasaan, dan tidak ada unsur mistik apapun pada gelang tasbih ini, bahkan sedah menjadi hal yang sangat identik dalam kehidupan sehari-hari saya.


Tetapi sesungguhnya dalam gelang tasbih kayu yang sangat sederhana ini, pada setiap butirnya terukir 6 huruf dalam bahasa Tibet yang berbunyi Om Ma Ni Pad Me Hum dan saya harus melafalkan itu dalam kehidupan setiap hari bahkan dalam setiap detak jantung ini.


Sebetulnya om mani padme hum berasal dari kata AUM – AUM – AUM. Disini kita berusaha agar pikiran, ucapan dan perbuatan kita bisa mencerminkan pikiran, ucapan dan perbuatan dari seorang Buddha. Arti kata Aum Mani adalah Permata, Permata melambangkan Dhamma, ajaran, metode dalam melaksanakan Dhamma. Metode ajaran itu seperti sesuatu yang dapat menerangi tempat yang gelap. Bagaikan batu permata yang indah dan mahal, walaupun diletakkan ditempat yang gelap dia akan terang dan bersinar.


Padme adalah Teratai-teratai yang melambangkan kebijaksanaan (prajna), teratai tumbuh di kolam yang berlumpur namun tidak ternodai oleh lumpur sebaliknya teratai memberikan kesan suci, bersih dan melambangkan kesucian dan kebijaksanaan. Siswa Buddha yang melaksanakan Dharma di tengah kekotoran dan penderitaan duniawi yang kotor (cerita tentang tanam teratai) bagaikan bunga teratai yang indah di atas lumpur yang kotor. Maka dari itulah teratai melambangkan kebijaksanaan dan kesucian.

Kebijaksanaan kita peroleh dari pengalaman kehidupan sehari-hari, dalam kehidupan sehari-hari kita senantiasa berinteraksi menghadapi berbagai macam kesulitan. Dengan menghadapi bermacam kesulitan-kesulitan itulah yang menyebabkan munculnya kebijaksanaan dalam diri kita.


Kemudian kata Hum adalah gabungan antara ajaran dan kebijaksanaan, jadi arti dari pada Om Mani Padme Hum adalah, bagaimana melalui Penggabungan antara ajaran dan kebijaksanaan kita bisa merubah pikiran kata-kata dan perbuatan kita menjadi pikiran kata-kata dan perbuatan Buddha. Jelas ini adalah mantra inti dari pada Avalokitesvara, tetapi sekaligus merupakan mantra inti dari pada Buddha, para Buddha di dalam hati kita.


Buddha bukan ada pada rupang (patung Buddha) namun ada di dalam hati kita, setiap makhluk memiliki benih-benih kebuddhaan dan mempunyai kesempatan yang sama untuk mencapai kebuddhaan dan memperoleh pencerahan. Dengan memperoleh kesempurnaan, maka tidak ada lagi penderitaan duniawi dan kelahiran kembali.


Saya berharap tulisan saya ini bisa dibaca dan dimengerti mengapa saya selalu memakai gelang tasbih yang hanya berharga Rp 5000 di tangan saya bukan jam Rolex yang mahal. Mungkin butuh 10 tahun lagi atau lebih untuk bisa meresapi makna 6 kata itu agar bisa selalu tenang dan sabar dalam menghadapi segala cobaan di dunia ini.

Selasa, 02 November 2010

Tetap Indah Walaupun Tak Berwarna

Di jaman yang serba digital ini, hampir semua orang bisa membuat foto yang indah, kalo salah foto tinggal hapus dan foto lagi, sangat mudah dan itu sangatlah membantu. Saya pun sangat menggemari kamera digital selain cepat dan mudah diproses apabila ada kesalahan kita langsung tahu dan masih dapat diperbaiki melalui proses editing (sebaiknya jangan banyak salah, makan waktu)Masih tersisah di dalam kenangan saya saat pertama kali belajar motret menggunakan kamera analog, kala itu saya harus menghitung setiap jepretan jangan sampai salah dan paling menegangkan adalah menunggu hasil cetakan... serasa jantung ini mau copot takut waktu motret dan nggak konsen bisa-bisa yang kita terima hanya lembaran negatif yang berwarna putih deh.

Saya ingin membagi pengalaman saya menggunakan film dan mencetak foto hitam putih, kebetulan teman saya Donny Kurniawan menitipkan film waktu saya sedang motret di Singapore, jadi bisa bereksperimen dan melatih kembali ketajaman insting.

Saya tidak sedang berbicara tentang komposisi foto, atau apalah yang selama ini ramai jadi pembicaraan komunitas foto dengan berbagai macam istilah, tapi hanya bagaimana indahnya perasaan sewaktu membuat foto dari memasukan roll ke dalam kamera sampai mencetak dengan cairan dan melihat hasil akhir. Coba bayangkan waktu membidik foto diatas, begitu indahnya perasaan ini, karena kita menggunakan metering dari hati dan mata kita, semuanya manual. Saya menggunakan Nikon FM2, Shutter speed 125/sec dan f11 semuanya dengan feeling sesuai yang pernah saya pelajari dulu jam sekian, matahari sekian, cuaca sekian dan warna sekian semua ada rumusnya. Goresan-goresan pada foto bukanlah effect digital, melainkan cara kita mengenal film yang kita gunakan, foto di atas menggunakan Ilford XP2 C41 ASA 400. Nah pengen liat fotonya?? harus bersabar karena harus habisin 1 roll yang isinya 36x jepret dan nggak mungkin dong film semahal itu kita baros pake, nah hal ini membuat kita harus mikir dulu baru jepret.

Sekarang proses cetak deh, gini caranya :Film dipasang di bawah enlarger, lalu cahaya 100 watt dinyalakan. Akan tampak bayangan film itu di atas kertas. Kalau bayangan itu sudah tepat, matikan lampu dan ganti kertas dengan kertas cetak foto. Nyalakan kembali lampu selama sekian detik. Kertas foto kemudian dicelupkan pada larutan pengembang selama beberapa menit. Angkat, kemudian ganti celupkan ke dalam larutan stop batch untuk menghentikan reaksi. Selanjutnya kertas foto itu dicelupkan pada larutan fixer, lalu kertas foto dibilas dengan air mengalir. Jadilah sebuah foto yang indah, yang kualitasnya bergantung pada lama pencahayaan, jauh dekatnya film dengan kertas foto, waktu pencelupan, kualitas kertas foto, usia pakai cairan, pembilasan, dan sebagainya, termasuk keterampilan operatornya. Nah cairan pengembang C6H6O2 dalam bahasa kerennya disebut hidrokuinon, dalam hal ini bertindak sebagai zat pereduksi. Jadi dalam reaksi itu terjadi proses reaksi redoks. Disamping hidrokuinon, dalam larutan pengembang perlu ditambahkan metol (N-metil-p-aminofenol sulfat). Metol berfungsi sebagai zat superaditif, yang efeknya tidak dapat digantikan dengan memberikan jumlah yang berlebih pada hidrokuinon yang sudah ada. Metol ini bertindak sebagai zat pereduksi juga. Aktivitas hidrokuinon dapat dipacu dengan menambahkan sedikit phenidone (1-phenyl-3-pyrazolidinone). Karena larutan pengembang/developer ini bekerja efektif pada lingkungan basa, maka kita perlu mencampurkan larutan potasium karbonat (atau sodium karbonat) sebagai aktivator untuk memperoleh lingkungan basa dengan pH pH 9,5 - 10,5; larutan sodium sulfit, sebagai pengawet dan potasium bromida sebagai restainer.

Nah selamat mencoba, happy huting guys.








Kamis, 30 September 2010

Siapa Yang Harus Dicerahkan?

Seorang remaja bertanya kepada Ahmad Dahlan. Apa itu agama? Dahlan terdiam sejenak. Ia lantas memainkan biola yang ada di tangannya. Tentu semua orang disekitar Dahlan, menjadi heran dan saling beradu pandang. “Apa maksudnya?,” begitu pikir mereka. Sejenak kemudian, mereka pun hanyut dalam alunan melodi indah yang dimainkan Dahlan. Sang ustad pun terlihat memainkan sepenuh jiwa.
“Bagaimana?,” tanya Dahlan kemudian. “Indah, damai, seperti semua masalah hilang,” jawab para remaja bergantian. “Ya, itulah agama,” jelas Dahlan. “Agama itu seperti musik, tenang, menyenangkan, dan menyegarkan hati,” tambahnya.
Lalu, Dahlan meminta salah seorang remaja memainkan biolanya. Hasilnya, bukan menghasilkan melodi indah, malah bunyinya memekakkan telinga. Bahkan, menjadi bahan tertawaan. “Itulah agama,” ujar Dahlan. Menurutnya, agama jika tidak dipahami dan dipelajari sungguh-sungguh, bisa menjadi hal yang merusak, memecah belah, dan menakutkan.
Inilah refleksi yang terdalam dari film Sang Pencerah, karya Hanung Bramantyo. Film ini sebenarnya bercerita tentang jalan hidup Kyai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Namun, melalui dialog-dialognya, film Sang Pencerah mengajak kita, untuk kembali merenungkan kehidupan dan kerukunan beragama kita saat ini.
Belakangan, kehidupan beragama di Indonesia kerap digoyang perpecahan. Kasus penusukan pendeta HKBP di Ciketing, Bekasi adalah ujian terbaru. Pembakaran dan perusakan tempat ibadah jemaat Ahmadiyah, dan pertikaian SARA di Ambon, Maluku untuk menyebut beberapa yang lainnya.
Dewan Antar-agama Indonesia (Inter Religius Council/IRC) menengarai masih ada ketegangan dan potensi konflik dalam hubungan antar-umat beragama di Indonesia. Ketegangan dan potensi konflik tersebut antara lain berbentuk kekerasan, pemaksaan kehendak, perusakan tempat ibadah, dan lainnya.
IRC juga berencana akan menyelenggarakan forum dialog dan silaturahmi nasional para tokoh umat beragama di Indonesia, akhir tahun ini.
Alunan yang memekakkan telinga
Film Sang Pencerah menunjukkan bagaimana agama bisa jadi alunan suara yang memekakkan telinga, dari biola yang dimainkan seorang yang tidak terlatih. Masyarakat Kauman, Yogyakarta di jaman Dahlan sibuk dengan beragam sesajen, sampai lupa substansi Islam yang sesungguhnya. Kultus individu terhadap Sultan sebagai wakil Tuhan di bumi juga mengaburkan ajaran Islam itu sendiri. Ironisnya, penyimpangan ini dilanggengkan para pemuka agama setempat, yang diantaranya pernah menuntut ilmu hingga ke Mekkah.
Sebaliknya, Ahmad Dahlan dianggap sebagai Kyai palsu karena membawa pemikiran pembaharu Islam. Pada kesempatan pertama dia menjadi khatib masjid, dia menyindir kebiasaan penduduk kampung Kauman dalam berdoa. Menurut Dahlan, dalam berdoa itu yang dibutuhkan cuma ikhlas dan sabar. Tidak lagi diperlukan Kyai, ketip, atau sesajen. Sontak, jamaah yang hadir kaget. Termasuk Sultan.
Dahlan juga merubah arah kiblat masjid, yang selama ini lurus ke barat dan sejajar dengan keraton yang dianggap sebagai pancar bumi. Kompas dan peta bumi jadi bekal untuk mengukur akurasi arah kiblat ke Mekkah, tidak dipercaya. Lantaran, kompas dan peta itu buatan Belanda yang dicap sebagai kaum kafir.
Suami Siti Walidah juga dianggap menyebarkan agama baru, karena menggunakan biola dalam mengajar, meja dan kursi layaknya sekolah Belanda yang disebut sekolah kafir, serta ikut organisasi Budi Utomo dengan berpakaian ala priyayi, yakni bersandal, bersepatu dan berminyak wangi.
Akibatnya, langgar kidul, warisan sang Ayah dirobohkan warga. Langgar itu dianggap sebagai pusat penyesatan dan penyebaran agama baru. Dahlan sendiri sempat putus asa, dan pergi meninggalkan kampung halamannya. Namun Dahlan mengurungkan niatnya, setelah mendapat pencerahan dan bantuan dari kerabatnya.
Pimpinan itu kunci
Kebodohan dan kemiskinan adalah musuh utama agama. Ironisnya, jika keduanya melekat kepada seorang pemimpin agama. Kyai Magelang, suatu hari mendatangi rumah Dahlan, yang telah disulap menjadi sekolah Madrasah Ibtidaiyah. Kyai itu mempertanyakan, mengapa Dahlan menggunakan mea, kursi, papan tulis dan kapur seperti sekolah kaum kafir (baca: Belanda).
Namun, Dahlan hanya bertanya sederhana. “Kyai datang jauh-jauh dari Magelang ke Yogyakarta, jalan kaki atau naik kereta api?.” Dengan bangga sang Kyai menjawab, “hanya orang bodoh yang mau jalan kaki dari Magelang ke Yogyakarta berjalan kaki. Ya jelas, saya naik kereta. Buat apa capai-capai.” Dahlan balik bertanya, “kereta api itu buatan siapa? Kan orang kafir juga.” Tanpa basa basi, Kyai itu pulang menahan malu.
Kejadian lain, terjadi saat Dahlan meminta persetujuan Kyai penghulu untuk pendirian Muhammadiyah. Meski Sultan setuju, namun Kyai penghulu menentangnya. Alasannya pun sepele. Kyai penghulu salah membaca jabatan Ahmad Dahlan, yang memproklamirkan diri sebagai President Muhammadiyah. Jabatan ini dibaca sang Kyai, sebagai Resident, sebuah jabatan yang dalam hirarki kolonial setara dengan Sultan.
Yang terjadi kemudian, terjadi keresahan yang sangat di masyarakat Kauman. Ahmad Dahlan dan pengikutnya dihujat dimana-mana. Bahkan, para pengikutnya sampai diusir orang tuanya karena setia kepada Dahlan, atau berkelahi karena mempertahankan nyawanya. Inilah bahayanya jika seorang pimpinan sudah dipengaruhi emosi dan egonya. Apalagi, jika ia adalah pimpinan dari kelompok yang jumlahnya mayoritas. Tidak hanya harta benda yang menjadi korban, melainkan juga nyawa.
Peran pemimpin, di masyarakat Indonesia yang menganut model patriaki sungguh penting. Terlebih, jika pendidikan dan kesejahteraan juga belum merata. Seorang pemimpin akhirnya tidak sekadar kiblat, namun juga harapan bagi hidup mereka. Mereka rela meninggalkan keluarga mengikuti pemimpinnya, untuk mendapatkan “surga” yang dijanjikan. Kekaguman dan rasa hormat yang berlebihan, tak jarang berubah menjadi kultus individu.
Kembali lagi ke adagium kebodohan dan kemiskinan adalah musuh agama. Kebodohan disini, tidak semata-mata dipahami sebagai tidak terpelajar. Melainkan, juga bisa dipahami sebagai kaum terpelajar yang tidak lagi membuka diri untuk pengetahuan atau hal-hal baru disekitarnya. Logikanya tertutup oleh egoisme dan fanatisme berlebihan. Tipe pemimpin seperti ini, tentu tidak segan-segan mengorbankan nyawa demi meraih keinginannya.
Begitu pula dengan kemiskinan. Seringkali pemimpin malah berlagak seperti makelar massa. Tahu pengikutnya banyak, dia malah mengambil untung dari sini, dengan cara dan dalil apa pun yang jadi dasar. Entah memungut sumbangan sebagai “penebusan dosa atau jalan masuk surga”, atau berselingkuh dengan penguasa, untuk melanggengkan kekuasaan si penguasa itu.
Yang terakhir ini, bisa terlihat dari mobilisasi massa untuk mendukung tokoh tertentu. Atau malah keengganan atau keraguan si penguasa negeri, untuk menindak para pemimpin masyarakat atau agama yang membuat onar atau mengacau.
Selain kemiskinan ekonomi, tentu kemiskinan hati jadi rentetan berikutnya. Tidak ada lagi nurani tersisa. Siapa pun yang jadi penghalang adalah musuhnya, atau malah dicap musuh dari agamanya. Layaknya pribahasa, semut diujung lautan kelihatan, namun gajah di pelupuk mata tidak tampak. Sibuk mengejar “surga”, namun mengorbankan hubungan antar manusia yang harmonis. Maunya didengarkan, tanpa berusaha mendengarkan. Selalu ingin jadi pusat perhatian dan menganggap keyakinannya yang paling benar.
Pemimpin harus berpikiran terbuka
Sebelum umat kebanyakan, yang terpenting untuk dicerahkan adalah para pemimpin atau tokoh agama. Seperti halnya Ahmad Dahlan muda, pergi naik haji dan berguru ke Mekkah. Niat Dahlan itu sempat ditertawakan pakde atau kakak ayahnya. “Buat apa kamu ke Mekkah? Disini sudah banyak Kyai yang berguru ke Mekkah tetapi tidak berbuat apa-apa. Semuanya bodoh dan tunduk kepada Sultan,” ujar sang pakde.
Namun, sindiran inilah yang jadi pegangan Dahlan untuk tidak kembali jadi bodoh dan miskin. Pengetahuan dan ilmu tidak ada artinya, jika tidak menggunakan logika dan hati. Keberanian untuk mengatakan tidak, jangan lantas dianggap pembangkangan.
Film ini menunjukkan berkali-kali, upaya dialog dan bertukar argumentasi antara Dahlan dengan para penentangnya. Meski tidak menghasilkan kesepakatan, namun juga tidak ada usaha saling memaksa. Namun, tatanan ini rusak setelah emosi dan ego kekuasaan tersentil. Menurunnya jumlah umat masjid besar, jadi pemicu kebencian yang sangat terhadap Dahlan. Jadi sesungguhnya, di dalam hubungan antara pemuka agama juga terdapat kompetisi politik yang kental.
Indonesia, sepertinya butuh figur pemimpin seperti Ahmad Dahlan dalam cerita Sang Pencerah. Meski memegang teguh prinsip, Ahmad Dahlan memiliki pemikiran yang progresif dan terbuka. Menyukai perbedaan dan membangun dialog antar perbedaan itu. Dahlan juga peka terhadap masalah yang dihadapi masyarakatnya, dan mau mendengarkan.
Refleksi penutup dari film ini adalah berani mengakui kesalahan dan meminta maaf. Karena seorang pemimpin juga tidak luput dari kesalahan. Seperti yang dilakukan Kyai penghulu, saat memanggil Dahlan menemuinya di masjid besar. Mari kita mengerjakan apa yang menjadi bagian kita masing-masing, dengan penuh tanggung jawab.

disadur dari Alexander Wibisono

Senin, 13 September 2010

plz add my pingchat ID : hannykandou (iPhone) hannykandou2 (Blackberry) you can connect from all smartphones

Rabu, 08 September 2010

Selamat menempuh hidup baru untuk Youdi & Gladys dan juga Edo & Chensie . Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kpd kami

Jumat, 03 September 2010

Yang mau ikutan Singapore Photo Tour tanggal 15-20 Oktober 2010 buruan daftar, tinggal 1 pasang lagi

Minggu, 29 Agustus 2010

Sabtu, 28 Agustus 2010

bulan depan Ada yg mau foto di Perth nggak yah? Lagi pengen foto di sana nih, murah meriah aja

Jumat, 27 Agustus 2010

testing ping from iPhone

Jumat, 23 Juli 2010

My Version of Emerald Balrog

Effect...better you find some chicks...hehehe

Ingredients for a Emerald Balrog

* Vodka
* Tequila
* Absinthe

Quantities for one drink:

* 1 Part/s Vodka
* 1 Part/s Tequila
* 1 Part/s Absinthe

Blending Instructions:

* Pour equal measures of each of the three ingredients into 'one' shot glass, Drink, Enjoy

Minggu, 20 Juni 2010

Siapakah yang Cacat?

Dicopy dari email sahabat saya
Sebenarnya Siapa yang Cacat?



Pada sebuah malam yang gelap bulan Agustus 1997, ketika dalam perjalanan pulang hujan turun dengan deras, saya mengendarai mobil melalui jalan yang sepi, angin kencang dan hujan deras menerpa mobil saya, kemudi oleng ke kanan, pada saat itu saya mendengar suara ledakan ban mobil saya pecah, saya menghentikan mobil saya dipinggir jalan, hujan masih deras, saya tidak mungkin turun dari mobil mengganti ban, sama sekali tidak mungkin, karena ketika berolah raga urat syaraf terluka, menyebabkan tangan dan kaki kiri saya tidak berfungsi, walaupun demikian pulang pergi ke kantor saya masih bisa mengendarai mobil yang sudah dipasang alat bantu khusus.

Saya masih mengharapkan ada kendaraan lewat yang berhenti membantu saya, tetapi setelah dipikir kembali rasanya tidak mungkin, kenapa mereka harus berhenti menolong saya? Jika saya juga tidak akan berhenti pada saat cuaca seperti ini. Saya lalu teringat dipinggir jalan tidak jauh dari tempat ini ada sebuah rumah, lalu saya perlahan-lahan menjalankan mobil, sangat beruntung saya melihat rumah itu lampunya menyala seperti menyambut saya. Saya menghentikan mobil saya didepan rumahnya dan membunyikan klakson, ada seorang gadis kecil membuka pintu, berdiri disana memandang saya, saya membuka jendela mobil, berteriak kepadanya :"Ban mobil saya pecah, saya membutuhkan bantuan orang mengganti ban, karena saya cacat, apakah ada yang bisa membantu saya?"

Dia masuk kembali ke dalam rumah, sejenak kemudian keluar lagi dia sudah memakai jas dan topi hujan, dibelakangnya diikuti seorang pria, dengan gembira menyapa saya. Saya duduk dengan nyaman didalam mobil, saya berpikir sungguh kasihan pria dan gadis kecil itu dibawah hujan deras dan angin kencang mengganti ban mobil, tetapi tidak apa-apa saya akan memberi mereka uang.

Hujan mulai reda, saya menurunkan kaca mobil memperhatikan mereka, gerakan mereka kelihatannya sangat lamban, saya mulai tidak sabar, dibelakang mobil kedengaran perkakas mobil dan suara gadis kecil :"Kakek, apakah ini dongkraknya?" saya mendengar pria itu berguman menjawab.

Akhirnya pekerjaan selesai, mereka berdiri didepan jendela mobil saya, pria tua ini kelihatan capek, dibawah jas hujan yang besar, badannya kelihatan lemah, gadis kecil ini kira-kira berumur antara 8 sampai 10 tahun. Ketika pria ini memandang ke arah saya, wajahnya yang periang dan senyumannya yang ramah menyapa saya :" Dalam cuaca buruk seperti sekarang, mobil yang rusak sangat berbahaya, tetapi sekarang sudah beres."

"Terima kasih." Saya menjawab :"Berapa ya saya harus membayar ongkosnya?"
Dia menggelengkan kepalanya : "Tidak perlu, Daisy berkata kepada saya, kamu cacat, saya sangat senang membantu anda, saya tahu jika hal ini terjadi pada saya, saya rasa kamu juga akan senang hati membantu saya bukankan begitu teman!"
Saya mengambil satu lembar uang 5 dollar :"Tidak! Tidak!, kamu pantas mendapat ongkos ini."

Dia tidak bermaksud mengambil uang saya, gadis kecil ini mendekati jendela mobil, dengan suara berbisik berkata kepada saya :"Kakek tidak bisa melihat."
Beberapa detik kemudian, saya merasa terkejut dan malu, selama ini saya belum pernah mempunyai perasaan yang demikian, seorang kakek buta dan seorang gadis kecil, didalam kegelapan malam dengan tangannya yang dingin meraba mencari perkakas mobil, matanya yang buta tidak bisa melihat dan hujan deras membantu saya mengganti ban mobil, sedangkan saya dengan nyaman duduk didalam mobil.

Sebenarnya siapa yang cacat?

Ketika mereka mengucapkan selamat malam dan meninggalkan saya, saya tidak ingat lagi berapa lama saya duduk terpaku disana, waktu berlalu terus membuat saya dapat mencari kenapa saya merasa sangat malu dan tidak nyaman, selama ini saya hanya memikirkan diri saya sendiri, mencari simpati orang lain merasa diri perlu dikasihani, sangat egois, sedangkan terhadap orang lain dingin, tidak peduli kepada orang lain, saya duduk disana berdoa, meminta kekuatan dari Tuhan sehingga saya bisa lebih mengetahui kekurangan diri sendiri, meminta kepercayaan diri sehingga saya dapat menghadapi semua rintangan dan mendoakan kakek buta dan gadis kecil ini semoga berbahagia selalu.

Minggu, 13 Juni 2010

AKU BEKU DALAM MATAHARI

Zaman itu, ketika semua bicara perubahan, dengan serempak semua bagai tersihir. Entah siapa yang memulai, semua terlena dalam kubangan harap dan impian. Hari hari itu dipenuhi slogan dan mantra-mantra: perubahan, perubahan, dan perubahan!

Di sudut sana, orang-orang memekik lantang, "Reformasi!"

Di pojok lapangan, para mahasiswa berteriak, "Reformasi!"

Hampir di setiap sudut, di setiap lorong, di setiap jalan, di setiap jembatan, di setiap gedung-gedung, hingga di setiap gubuk reot, semua bicara dan mengumpat lantang tentang suara yang sama: "Reformasi!"

Aku pun tak diam, aku berdiri di suatu bukit. Gemuruh angin kencang menyibak kesendirianku. Sekejap datang seseorang membawakan aku matahari. Wahai saudaraku, inilah matahari!

Dengan penuh keyakinan sungguh ia memeluk dan berbisik, jadilah matahari! Aku pun tersenyum dan datang menghampiri, impian yang sangat kuyakini.

Aku diam sejenak, demi dapatkan mantra sakti.

Setelah kutemukan, aku pun berteriak: "Hidup adalah perjuangan! Ya, Hidup adalah perjuangan! Perjuangan sebagai altar ibadah, perjuangan tanpa henti tanpa kenal menyerah"

Tapi, angin memang tak bisa ditebak,

Mungkin orang mengatakan aku menyerah! Mungkin orang mengatakan aku berlari! Tidak, Aku tak lari sembunyi, meski aku harus sembunyi. Karena tak ingin tangan hina ini kian kotor oleh kedunguanku yang tak terperi.

Cahaya itu ada di sini, Matahari itu ada di sini, Di dada ini, di dalam jiwa ini, cahaya yang selalu menerangi hati para pencari. Mencari keabadian dan kesejatian pribadi yang hakiki

Kini aku di sini, di jalan yang aku pilih ini, aku mengerti, setiap dari kita, hanya rangkaian proses untuk selalu terus bergerak, merangkak untuk menggapai Cinta Ilahi.


(Istirahat dulu dari panggung politik, konsentrasi ke bisnis dulu)

Senin, 17 Mei 2010

Prewedding of Youdi and Gladys

In late January, when my wedding was in progress, I see there is an email from Sampoerna Tbk signed on my blackberry. I think it would project from Sampoerna, after I read, this time not as usual email content, because it comes from someone named Mr. Youdi Mangundap, he wanted to make a prewedding photo session in Manado, Minahasa, Tomohon and Ternate. I sent the price list the next day.Two months later After I returned from Hong Kong, Youdi send another email to me, if he wants to prewedding in May 2010, I immediately agreed and set a schedule with him. But of the three locations that he requested, the cost becomes expensive, but he kept insisting that the price is not a problem, I try to give a comparison with the price of overseas photos only slightly different, and that night he agreed although we have never met, I draw conclusions , He's a professional, for Youdi the most important is trust, quality and commitment. And for me Youdi is one of my clients are very friendly, willing to share ideas to get the best results, and he's very friendly, kind and very funny. So we arrived in Macao and this is the result of which we have made





Posted by Picasa

Sabtu, 17 April 2010

Result of Hongkong April 2010




Posted by Picasa

Hong Kong April 2010

This time I made a pre-wedding photos in Hong Kong, but this time the weather is very cold. Unlike what we expect, because we came up with the concept of sunny weather, but no problem, everything can be controlled and we managed to make a lot of very beautiful photographs.
Posted by Picasa

Selasa, 30 Maret 2010

Posted by Picasa

Perjuangan Untuk Hidup

Dikisahkan, ada seekor anjing yang masih muda dan terkenal dengan keangkuhannya. Dia merasa dirinya gagah, berani, gesit, dan cepat dalam berlari serta pandai dalam memburu mangsa sasarannya. Suatu siang yang terik, si anjing yang terbangun dari tidur nyenaknya memutuskan hari ini dia ingin berburu dan menyantap binatang kesukaannya yakni seekor kelinci putih yang masih muda. Hem...air liurnya segera menetes membayangkan nikmatnya daging hasil buruannya. Saat berlari-lari kecil untuk memulai hari perburuannya, tidak lama kemudian, dia melihat seekor tikus berlari melintas di depannya. Dengan iseng, dikejarnya si tikus, ditangkap dengan kuku kakinya yang tajam, tikus yang ketakutan dipermainkan dengan gembira dan setelah puas bermain, si tikus pun dilepas diiringi suara raungan si anjing untuk menakut-nakutinya.Setelah melihat tikus yang lari ketakutan, ekor si anjing kembali melambai santai. Dia melanjutkan perjalannya sambil mewaspadai setiap gerakan di sekelilingnya, tekadnya kuat untuk mencari kelinci walaupun perutnya terasa makin melilit karena kelaparan. Setelah cukup lama waktu berlalu, akhirnya dia berhasil menemukan si kelinci dan segera terjadilah kejar kejaran yang seru di antara mereka. Kelinci yang ketakutan mengerahkan segenap tenaga dan kekuatannya berusaha menyelamatkan diri. Tanpa mempedulikan lagi segala rasa sakit akibat luka-luka di sekujur tubuhnya akibat dari menerjang dan menerobos setiap semak berduri yang dilaluinya. Hingga tiba-tiba dilihatnya sebuah lubang di tepi tebing segera dilemparkan tubuhnya masuk ke lubang gelap itu. Si anjing yang kehilangan jejak sibuk menggonggong dan mengais di sekitar lubang tetapi tubuh dan kakinya tidak cukup panjang untuk meraih kelinci di dalam lubang. Di saat yang bersamaan, anjing melihat seekor ayam di sekitar situ. Dengan segera ditangkap dan dijadikanlah mangsa. Anjing yang kelaparan tidak lagi memperdulikan apa yang menjadi makanannya. Seekor anjing tua yang menyaksikan semua ulah si anjing muda menertawakannya. "Hahaha.... Anak muda jika semua penghuni hutan tahu, apakah Kamu tidak malu? Kesombongan dan kehebatan larimu ternyata dikalahkan oleh kelinci. Taukah Kau, kenapa seekor kelinci bisa mengalahkanmu?" Sambil tertunduk malu si anjing muda menggelengkan kepala, "Karena kelinci berlari demi mempertahankan hidupnya. Sedangkan Kamu berlari untuk sekedar mengejar kesenangan dan memenuhi rasa laparmu. Kalian sama-sama berlari tetapi mempunyai motivasi yang sangat berbeda. Maka tidak heran si kelinci berhasil lolos dari kejaranmu karena kelinci berjuang untuk hidupnya."
Posted by Picasa

Senin, 29 Maret 2010

5 Kekuatan Perencanaan Sun Tzu

Lebih dari 2400 tahun silam di tanah Tiongkok, ahli strategi perang Sun Tzu melalui karyanya yang melegenda, yakni 13 bab strategi perang, menegaskan bahwa perang adalah masalah yang sangat fundamental untuk berdirinya sebuah negara. Perang menyangkut hidup atau matinya rakyat. Perang menunjukkan keperkasaan atau kerapuhan pemimpin negara, dan juga menentukan kejayaan atau keruntuhan sebuah negara. Jadi, sebelum mengambil keputusan untuk berperang, kekuatan negara, faktor militer, dan situasi medan pertempuran harus dipelajari dengan sangat hati-hati, saksama, akurat, dan menyeluruh

Sangat tepat kiranya, Sun Tzu meletakkan penyusunan rencana dalam bab pertama dalam 13 strategi perangnya. Sun Tzu menegaskan, setidaknya ada 5 faktor yan harus dikuasai sebagai dasar dalam menyusun rencana perang. Yaitu:

1. faktor moral
Jika pemimpin negara mendapat dukungan moral dari akyat, maka rakyatnya pasti siap bertempur dan rela berkorban.

2. faktor langit
Menyangkut cuaca, musim, gelap-terang, peluang, dan timing

3. faktor geografi
Jarak, dan terjalnya medan pertempuran

4. faktor kepemimpinan
Menyangkut wibawa dan kharisma seorang pemimpin yang bijak dan tegas.

5. faktor hukum
Kedisiplinanm serta struktur organisasi yang rapi dan solid.Kedisiplinanm serta struktur organisasi yang rapi dan solid.

Jika kelima faktor ini dikuasai, ditambah pertimbangan faktor pendukung lainnya, maka, pemimpin perang akan akan mampu menyusun rencana perang dan strategi dengan sangat efektif dan efisien. Sun Tzu menegaskan: barangsiapa mampu menyusun rencana dengan sangat saksama, akurat, dan detail, dia akan memenangkan peperangan! Sebaliknya, barang siapa gegabah dan tidak fokus dalam perencanaan, pasti akan kalah dalam perang.

Jadi, dari cara menyusun rencana saja, kita sudah dapat meramalkan, apakah kita akan meraih kemenangan, atau dikalahkan lawan! Ditambahkan pula oleh Sun Tzu tentang konsep mengetahui kekuatan maupun kelemahan diri sendiri, sekaligus mengetahui kekuatan dan kelemahan lawan. Hasilnya, 100 kali berperang, 100 kali menang!

Sun Tzu mengingatkan, kemenangan harus diawali dengan penyusunan rencana strategi yang matang. Jangan sekali-kali bertindak gegabah atau sembrono pada tahap yang paling mendasar ini. Adakan penyelidikan, pengumpulan data atau informasi yang lengkap, akurat, detail, menyeluruh, serta tinggi tingkat presisinya, dan analisis dengan tajam berbagai faktor di lapangan. Dari analisis tersebut akan menghasilkan suatu strategi perang yang sangat efektif karena kita mengetahui persis kekuatan dominan kita (advantage point). Hasilnya, strategi perang yang tidak saja efektif, tetapi pasti berdaya guna karna kekuatan di tangan kita. Poweful!

http://hanny-kandou.blogspot.com/

Kamis, 25 Maret 2010

Tebing Bunga Lily

Teringat percakapan saya dengan seorang sahabat saya yang ingin mencalonkan diri sebagai walikota kemarin sore di suatu cafe, dan tanpa sengaja tadi malam juga saya kedatangan tamu seorang anggota dewan yang terhormat, semua isi pembicaraan kita tentang suatu keraguan dan keinginan, saya langsung teringat cerita dari tanah nenek moyang saya ini. Mungkin ini bisa menjadi motivasi sahabat-sahabat saya yang akan bertarung.

Dikisahkan, di tepian tebing yang terjal dan terpencil, tumbuhlah satu tunas bunga lily. Saat tunas bunga lily mulai tumbuh, dia tampak seperti sebatang rumput biasa. Walau tampak seperti sebatang rumput biasa, si tunas muda itu merasa yakin bahwa suatu saat nanti dirinya akan berubah menjadi bunga lily yang cantik mempesona.

Tetapi rumput-rumput disekitarnya mengejeknya dan menertawakannya. Bahkan burung-burung dan serangga pun menasehatinya supaya si tunas lily berhenti bermimpi menjadi bunga yang indah. Kata mereka, “Sekalipun kamu bisa mekar menjadi bunga lily yang cantik, tetapi karena kamu berada di tebing yang terpencil, maka tidak ada seorang pun yang akan datang melihat dan menikmati keindahanmu.

Diejek seperti itu, tunas bunga lily tetap diam. Bahkan ia semakin rajin menyerap air dan memanfaatkan sinar matahari untuk memperkuat pertumbuhan akar dan batangnya. Akhirnya, suatu pagi di musim semi, kuncup pertama pun mulai tumbuh. Bunga lily merasa senang sekali. Usahanya tidak sia-sia dan hal itu menambah keyakinan maupun kepercayaan dirinya.

Bunga lily berkata kepada dirinya sendiri, “Aku akan mekar menjadi sekuntum bunga lily yang indah. Tidak peduli apakah akan ada orang yang menikmati keberadaanku atau tidak, Aku tetap harus mekar dan berbunga sesuai denga jati diriku sebagai bunga lily.”

Hari demi hari, waktu terus berjalan. Akhirnya, kuncup bunga lily pun mekar dan menebar au yang harum di sekitarnya. Kini tampaklah keindahan bunga berwarna putih yang sempurna. Saat itulah, rumput liar, burung-burung, dan serangga tidak berani lagi mengejek atau menertawakan si bunga lily.

Bunga lily pun tetap rajin memperkuat akar dan bertumbuh terus. Dan hanya satu kuntum menjadi dua kuntum bunga, berkembang lagi dan terus berkembang, sampai akhirnya tepian tebing pun di selimuti oleh hamparan putih bunga-bunga lily yang indah dan mempesona. Tebing terjal dan terpencil itu pun akhirnya berubah menjadi taman bunga lily yang sangat indah dan menarik hati. Tempat yang semula sepi itu kini dikunjungi banyak orang. Banyak dari kota maupun dari desa, semua berdatangan untuk menikmati keindahan permadani putih bunga lily putih tersebut. Akhirnya, tempat itu di kenang banyak orang dan terkenal dengan sebutan Tebing Bunga Lily.

JADIKANLAH KERAGUAN DAN EJEKAN SEBAGAI CAMBUK UNTUK MEMPERKUAT TEKAD DAN PERJUANGKAN DENGAN SEGENAP KEMAMPUAN YANG ADA, BUKTIKAN SEMUA MIMPI DAPAT MENJADI KENYATAAN !!!

http://hanny-kandou.blogspot.com/

Berani Bermimpi

Alkisah, di sebuah desa miskin ada satu sekolah dasar. Hanya sedikit muridnya karena kebanyakan anak-anak di desa itu membantu orang tuanya mencari nafkah. Suatu hari, satu-satunya guru yang ada di sekolah itu sedang memberi pelajaran mengarang. Setelah menjelaskan cara-cara mengarang cerita, si guru memberikan pekerjaan rumah. “Anak-anak, pekerjaan rumah hari ini adalah mengarang dengan judul cita-citaku. Besok, hasil karangan kalian di baca didepan kelas satu per satu...”

Keesokkan hatinya, murid-murid maju ke depan kelas dan membacakan karangannya masing-masing. Kebanyakan dari mereka bercita-cita menjadi guru, petani, atau pegawai pemerintah, dll. Sang guru menggut-manggut tanda setuju. Lalu, tiba seorang murid yang paling mudah usianya. Bajunya tambal sulam, tubuhnya kurus kecil, tapi suaranya sangat lantang. “Kalau besar nanti, aku ingin punya rumah besar di atas bukit, dengan pemandangan yang indah, berdampingan dengan pohon-pohon kecil di sekelilingnya untuk tempat peristirahatan. Berderet pohon cemara dan poho-pohon yang rindang di antara rumah-rumah itu. Ada taman bunga bertata apik dengan beraneka bunga dan warna. Ada kebun buah dengan buah-buahan lezat yang bisa dipetik oleh penghuni rumah dan penduduk disekitarnya. Saya ingin jadi orang sukses dan bahagia bersama dengan keluarga besar dan para tamu yang datang disana...”

Mendengar suara lantang si murid kecil itu, kontan seisi kelas tertawa bersamaan. “Dasar pemimpi...!” ejek murid yang lain. Mereka mencemooh cita-cita si murid kecil. Melihat kegasuhan itu, si guru jadi marah-marah. Ia menganggap, biang kerok kegaduhan itu adalah si murid kecil. Si guru menegurnya, “Yang kamu tulis itu bukan cita-cita, tapi itu impian yang tidak mungkin terjadi. Kamu harus tulis ulang tentang cita-citamu yang sebenarnya,” perintah sang guru.

“Guru, ini adalah cita-citaku yang sebenarnya. Ini bukan hanya mimpi, ini bisa menjadi kenyataan,” murid kecil bersikeras.

“Hei...Kamu hidup di desa yang miskin, keluarga juga keluarga yang miskin. Bagaimana kamu akan mewujudkan cita-cita seperti itu? Dasar pemimpi...! Buat karangan yan masuk akal saja!” Teriak si guru muali tidak sabar.
“Aku tidak mau cita-cita yang lain. Ini cita-citaku tidak ada yang lain...,” si murid kecil ngotot.
“besok kamu harus bawa karangan yang baru. Jika tidak kamu perbaiki karangan kamu itu, kamu akan mendapat nilai jelek,” si guru mulai mengancam. Namun keesokkan harinya, si murid ke sekolah tanpa membawa karangan baru. Walau di ancam dan di permalukan seperti itu, ia tetap pada cita-cita semulanya. Karena sikapnya yang keras kepala dan tidak mau mengikuti perintah guru, akhirnya ia mendapat nilai paling jelek di kelas.

Tanpa terasa waktu terus berjalan. 30 tahun kemudian, si guru masih tetap mengajar di sekolah dasar itu. Suatu hari, ia mengajak murid-muridnya bea=lajar sambil berwisata ke sebuah kebun buah di atas bukit yang sangat terkenal. Kebun buah itu berada di desa tetangga, tidak seberapa jauh dari desa tempat mereka tinggal. Sesampai di kebun buah yang luas dan indah itu, si guru dan murid-muridnya berdecak kagum. Kebun buah itu ternyata di lengkapi dengan sebuah taman bunga yang luas, di kelilingi pepohonan yang rindang nan sejuk. Yang lebih mengagumkan, di dekatnya terdapat rumah besar bak istana. Tinggi menjulang, mega, dan sangat indah arsitekturnya.

“Orang yang membangun istana ini pastilah orang yang sangat hebat... Mengapa baru sekarang aku tahu ada tempat seindah ini...,” gumam si guru terkagum-kagum. Tiba-tiba terdengar jawaban, “ Bukan orang hebat yang membangun rumah ini... hanya seorang murid bandel yang berani bermimpi punya cita-cita yang besar. Pasti, yang lebih hebat adalah guru dulu yang mendidik bocah itu... Mari masuk ke dalam rumah. Kita nikmati teh dan buah-buahan terbaik dari kebun ini...,” ujar si pemilik rumah itu dengan ramah.

Mendengar ucapan itu, mendadak guru itu terpanah dan teringat siapa yang berdiri di depannya. Dia adalah si murid kecil yang keras kepala yang mendapat nilai jelek waktu itu. Sekarang dia telah menjelma menjadi pengusaha yang sukses. Matanya berkaca-kaca, merasa bersyukur sekali dan sekaligus menahan malu karena 30 tahun yang lalu dirinya melecehkan cita-cita anak itu.

JIKA ADA ORANG YANG MENGEJEK DAN MENCEMOOH MIMPI-MIMPI ANDA KITA, JANGAN PERNAH BERKECIL HATI. HANYA ATU JAWABANNYA, KUATKAN TEKAD DAN SEMANGAT, LALU BERJUANG DENGAN SEKUAT TENAGA, DAN BUKTIKAN BAHWA KITA MAMPU DAN BERHAK UNTUK MENDAPATKAN YANG TERBAIK DARI HIDUP KITA.

http://hanny-kandou.blogspot.com/